
Bagi orang luar, Cijulang mungkin hanya titik singgah menuju Green Canyon. Namun bagi mereka yang mendalami Kitab Kacijulangan, setiap sudut wilayah ini adalah bait-bait naskah yang hidup. Ajaran Kacijulangan tidak berhenti di atas daun lontar atau kertas usang; ia bertransformasi menjadi sebuah laku hidup yang unik: Ma’rifat Pesisir.
Jika di Jawa Tengah kita mengenal Sangkan Paraning Dumadi, dalam Kacijulangan diajarkan tentang Purwa Daksi.
Masyarakat Cijulang yang memegang teguh ajaran ini cenderung memiliki sifat yang sangat tenang. Mereka percaya bahwa hidup adalah aliran sungai—tak perlu terburu-buru, karena pada akhirnya semua akan bermuara di samudera yang sama (Sang Pencipta).
Dalam naskah Kacijulangan, burung Julang digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kedisiplinan tinggi. Burung ini tidak pernah memakan buah yang jatuh ke tanah; ia hanya mengambil yang langsung dari pohonnya.
Kaitan Kacijulangan dengan alam sangat kental pada penjagaan Cukang Taneuh (Green Canyon). Secara mistis-filosofis, Cukang Taneuh (Jembatan Tanah) adalah simbol jembatan antara dunia materi dan dunia ruh.
Para orang tua di Cijulang sering berpesan: “Ulah ngarusak cukang mun hayang salamet meuntas.” (Jangan merusak jembatan jika ingin selamat menyeberang). Kalimat ini adalah metafora agar manusia jangan merusak alam dan tatanan sosial, karena itulah “jembatan” yang akan membawa kita pada keselamatan sejati.
Dalam struktur sosial, ajaran ini melahirkan pola kepemimpinan yang disebut “Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman”.
Seorang pemimpin di mata Kacijulangan harus:
Kitab Kacijulangan adalah pengingat bahwa “Menjadi Modern tidak berarti Menjadi Asing”. Kita bisa terbang setinggi burung Julang, menguasai teknologi, dan menggenggam dunia, namun hati kita harus tetap jernih seperti mata air (Ci) yang mengalir dari pegunungan menuju samudera keikhlasan.

Tidak ada komentar