Secarik kertas itu bukan berisi PR matematika atau daftar belanjaan. Ia adalah surat wasiat. Di atas garis-garis buku tulis yang kaku, seorang anak sekolah dasar menggoreskan salam perpisahan—lengkap dengan gambar sesosok manusia kecil yang menitikkan air mata. Sebuah potret keputusasaan yang melampaui usianya. Ketika seorang bocah memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, itu bukan sekadar tragedi personal; itu adalah lonceng kematian bagi fungsi perlindungan negara yang selama ini diklaim “hadir.”
Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: ke mana negara saat jerit itu masih berupa bisikan?
Kita sering terjebak dalam retorika “Kota Layak Anak” atau kurikulum pendidikan yang terus berganti nama. Namun, di balik angka-angka statistik pencapaian, ada ruang hampa yang mengerikan di sektor kesehatan mental anak. Sekolah kita masih menjadi pabrik nilai, bukan ruang aman. Guru-guru dibebani administrasi yang mencekik, sementara mata mereka sering kali luput melihat perubahan perilaku seorang murid yang mulai murung di pojok kelas.
Jangan hanya menyalahkan pola asuh atau rapuhnya ketahanan keluarga. Negara punya tanggung jawab sistemik. Keberadaan psikolog di tingkat puskesmas atau konselor sekolah yang mumpuni masih menjadi barang mewah yang jarang ditemui di pelosok Nusantara. Alih-alih menyediakan sistem mitigasi kesehatan mental yang inklusif, pemerintah lebih sering bereaksi reaktif—datang dengan karangan bunga setelah jenazah dimakamkan, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi.
Kematian anak SD ini adalah tamparan bagi Kementerian Pendidikan maupun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Surat wasiat bergambar orang menangis itu adalah bukti autentik bahwa sistem perlindungan kita hanya gagah di atas kertas undang-undang, namun lunglai dalam implementasi di lapangan.
Negara harus berhenti bersikap sebagai penonton. Jika biaya untuk alat pertahanan bisa dikucurkan triliunan, mengapa investasi untuk menyelamatkan nyawa dan kewarasan generasi penerus seolah diperlakukan dengan kikir? Tanpa ada keberanian untuk memprioritaskan kesehatan mental anak ke dalam agenda nasional yang mendesak, kita hanya menunggu waktu sampai pensil-pensil kecil lainnya berhenti menggoreskan cita-cita, dan justru menuliskan kata “perpisahan.”
Cukup satu nyawa bocah menjadi martir atas kegagalan sistem ini. Tak perlu ada lagi gambar air mata di buku tulis yang seharusnya berisi mimpi-mimpi besar.






