TRENDING

Di Ujung Jalan “Tembe Mburi”: Ketika Hati Belajar Menanti Mekarnya Benih

2 menit membaca View : 13
admin
Jendela Rasa - 06 Feb 2026

Seringkali kita merasa dunia begitu bising dan tidak adil. Kita menanam ketulusan, namun yang tumbuh justru pengkhianatan. Kita menyirami kasih sayang, namun yang mekar adalah luka. Di saat itulah, filosofi tembe mburi hadir sebagai lentera.

​Ia mengajarkan kita bahwa hidup adalah tanah yang jujur. Setiap butir kebaikan yang kita semai dengan sisa-sisa tenaga yang kita miliki, tidak akan pernah salah alamat. Jika tidak hari ini, mungkin esok. Jika tidak padamu, mungkin pada anak cucumu. Tembe mburi adalah tentang percaya bahwa semesta sedang mencatat setiap detak keikhlasanmu dalam buku besarnya.

​Menanam Jati di Tengah Hutan Kehidupan

​Menjalani hidup dengan semangat tembe mburi ibarat seorang tua yang menanam pohon jati. Ia tahu, tangannya mungkin akan kering dan kulitnya akan keriput sebelum pohon itu menjulang tinggi. Ia mungkin tak akan pernah duduk di bawah rimbun daunnya.

​Namun, hatinya damai. Ia bahagia karena tahu bahwa di masa depan—di tembe mburi—akan ada pengembara yang berteduh dari terik matahari, atau burung-burung yang menemukan rumah di dahan-dahannya. Inilah puncak tertinggi dari kasih sayang: melakukan sesuatu yang manfaatnya baru akan dirasakan saat kita tak lagi mengharapkan pujian.

​Sebuah Rem di Tengah Ambisi

​Namun, tembe mburi juga merupakan cermin yang jujur. Ia menjadi pengingat bagi langkah yang mulai angkuh. Saat kita tergoda menyakiti demi ambisi, atau berbohong demi posisi, nurani akan mengetuk pelan: “Eling, bakale ketemu ing tembe mburi.”

​Apa yang kita lempar ke langit, akan kembali jatuh ke bumi yang sama tempat kita berpijak. Filosofi ini mengajak kita untuk berhati-hati dengan jejak, karena jalan yang kita bangun dengan duri hari ini, adalah jalan yang harus kita lalui dengan telanjang kaki di kemudian hari.

​Menanti Mekar dengan Sabar

​Di isihati.com, kita mengerti bahwa menanti itu berat. Tapi tembe mburi memberi tahu kita bahwa ada keindahan dalam proses “menjadi”.

​Jangan layu hanya karena dunia belum melihat cahayamu. Teruslah menjadi baik, teruslah memaafkan, dan teruslah menata hati. Biarkan setiap doa dan usahamu tersimpan rapi di lumbung langit. Sebab, ketika waktu tembe mburi itu tiba, kau akan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah terlambat, Ia hanya sedang menyiapkan panen raya yang paling indah untuk kesabaranmu.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
CLOSE ADS