Bagi orang luar, Cijulang mungkin hanya titik singgah menuju Green Canyon. Namun bagi mereka yang mendalami Kitab Kacijulangan, setiap sudut wilayah ini adalah bait-bait naskah yang hidup. Ajaran Kacijulangan tidak berhenti di atas daun lontar atau kertas usang; ia bertransformasi menjadi sebuah laku hidup yang unik: Ma’rifat Pesisir.
1. Ajaran “Sangkan Paraning Dumadi” Versi Pasundan
Jika di Jawa Tengah kita mengenal Sangkan Paraning Dumadi, dalam Kacijulangan diajarkan tentang Purwa Daksi.
- Purwa (Asal): Kita harus tahu dari mana kita berasal (tanah dan air).
- Daksi (Tujuan): Kita harus tahu ke mana kita akan kembali.
Masyarakat Cijulang yang memegang teguh ajaran ini cenderung memiliki sifat yang sangat tenang. Mereka percaya bahwa hidup adalah aliran sungai—tak perlu terburu-buru, karena pada akhirnya semua akan bermuara di samudera yang sama (Sang Pencipta).
2. Simbol Burung Julang: Mandiri dan Setia
Dalam naskah Kacijulangan, burung Julang digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kedisiplinan tinggi. Burung ini tidak pernah memakan buah yang jatuh ke tanah; ia hanya mengambil yang langsung dari pohonnya.
- Filosofinya: Manusia Kacijulangan diajarkan untuk menjaga kehormatan diri (self-respect). Mereka lebih memilih hidup sederhana hasil keringat sendiri daripada hidup mewah dari hasil yang tidak jelas asal-usulnya. Ini adalah cikal bakal sifat kemandirian ekonomi yang kuat di wilayah Cijulang.
3. Penjaga Gerbang “Cukang Taneuh”
Kaitan Kacijulangan dengan alam sangat kental pada penjagaan Cukang Taneuh (Green Canyon). Secara mistis-filosofis, Cukang Taneuh (Jembatan Tanah) adalah simbol jembatan antara dunia materi dan dunia ruh.
Para orang tua di Cijulang sering berpesan: “Ulah ngarusak cukang mun hayang salamet meuntas.” (Jangan merusak jembatan jika ingin selamat menyeberang). Kalimat ini adalah metafora agar manusia jangan merusak alam dan tatanan sosial, karena itulah “jembatan” yang akan membawa kita pada keselamatan sejati.
4. Kacijulangan dalam Pola Kepemimpinan Lokal
Dalam struktur sosial, ajaran ini melahirkan pola kepemimpinan yang disebut “Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman”.
Seorang pemimpin di mata Kacijulangan harus:
- Ngindung ka Waktu: Memiliki kasih sayang sedalam ibu dan peka terhadap kondisi zaman.
- Mibapa ka Jaman: Memiliki ketegasan seorang ayah dan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan jati diri Sunda-nya.
Kesimpulan untuk Kita Hari Ini
Kitab Kacijulangan adalah pengingat bahwa “Menjadi Modern tidak berarti Menjadi Asing”. Kita bisa terbang setinggi burung Julang, menguasai teknologi, dan menggenggam dunia, namun hati kita harus tetap jernih seperti mata air (Ci) yang mengalir dari pegunungan menuju samudera keikhlasan.




