Pangandaran. Mendengar namanya saja sudah terbayang deburan ombak yang syahdu, hamparan pasir yang mengundang, dan tentu saja… mitos. Di antara banyak cerita rakyat yang menyelimuti pesisir selatan Jawa, ada satu narasi yang tak lekang dimakan waktu: larangan mengenakan baju berwarna hijau saat beraktivitas di pantai.
Bagi sebagian orang, ini hanyalah bumbu cerita yang disisipkan para orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak. Namun, bagi sebagian lainnya, larangan ini adalah bentuk penghormatan serius terhadap sosok gaib yang dipercaya menjadi penguasa Laut Selatan: Nyi Roro Kidul.
Hijau, Warna Sang Ratu dan Panggilan Laut
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul identik dengan warna hijau. Hijau bukan sekadar warna, melainkan simbol kemewahan, kesaktian, dan kekuasaan di istana bawah laut. Karenanya, mengenakan baju hijau di wilayah kekuasaannya dianggap sebagai bentuk “mengundang” atau “menantang” sang ratu. Konon, mereka yang melanggar akan ditarik ombak dan tak pernah kembali.
Ini adalah bentuk kearifan lokal. Sebuah folklor yang bertahan lintas generasi, mengajarkan kita untuk selalu mawas diri dan menghormati kekuatan alam yang tak terlihat. Mitos ini, secara halus, adalah pengingat bahwa laut bukanlah taman bermain yang bisa diremehkan.
Di Balik Tirai Mistis: Sebuah Analogi Logis
Namun, benarkah hanya karena amarah Nyi Roro Kidul semata? Mari sejenak kita singkap tirai mistis itu dan mencoba menakar nalar di baliknya.
Secara ilmiah, air laut, terutama yang berinteraksi dengan terumbu karang atau dasar laut yang dipenuhi alga, seringkali memantulkan spektrum warna hijau kebiruan. Begitu pula pantulan dari langit atau vegetasi di sekitarnya. Ini berarti, orang yang terseret arus ombak dan mengenakan pakaian berwarna hijau, secara visual, akan berkamuflase dengan lingkungan air.
Bayangkan skenarionya: Seorang wisatawan berbaju hijau terseret ombak. Tim SAR, yang berpacu dengan detik demi detik, harus menyisir luasnya lautan. Dalam kondisi panik, di tengah ombak yang bergolak, dan di bawah pencahayaan yang kadang tak menentu, mencari objek berwarna hijau di tengah birunya air yang terkadang kehijauan adalah tugas yang sangat sulit. Warna hijau akan sangat minim kontras, menyulitkan proses identifikasi dan evakuasi.
Ini bukan soal takhayul semata, melainkan soal probabilitas keselamatan.
Ketika Kepatuhan Menjadi Kebijakan
Larangan memakai baju hijau di Pantai Pangandaran, atau di pesisir selatan Jawa pada umumnya, adalah perpaduan unik antara kepercayaan dan logika. Mitos ini mungkin berfungsi sebagai “pemaksa” tak langsung bagi wisatawan agar lebih berhati-hati. Sementara itu, dari kacamata modern, kita bisa memahami bahwa larangan tersebut adalah bentuk mitigasi risiko yang efektif, jauh sebelum ilmu SAR berkembang pesat.
Jadi, ketika Anda berlibur ke Pangandaran, dan mendengar nasihat untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau, anggaplah itu sebagai dua hal sekaligus: penghormatan terhadap kekayaan budaya lokal yang begitu mendalam, sekaligus tindakan cerdas untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan mempermudah kerja para pahlawan kemanusiaan (Tim SAR) jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada akhirnya, menghormati laut adalah tentang kerendahan hati. Baik itu karena keyakinan spiritual, maupun karena kesadaran akan dahsyatnya kekuatan alam.
Bagaimana Menurut Anda?
Apakah Anda termasuk yang percaya sepenuhnya pada mitos ini, atau lebih melihatnya dari sisi logika keselamatan? Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah!
Jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman-temanmu yang hobi ke pantai!




